RSS

Struktur Hermeneutika

21 Mar

Refleksi 3 perkuliahan Matematika Model

Senin, 14 Maret 2016

 

Dalam hermeneutika, ada terdiri dari dua, yaitu ada yang tetap dan ada yang berubah. Ada yang tetap itu dipikiran manusia, sedangkan ada yang berubah itu diluar pikiran manusia. Ada yang tetap adalah yang dipikir atau dinalar sedangkan ada yang berubah adalah yang diluar pikiran itu, hal yang dialami atau pengalaman sehingga menjadi nyata.

Dalam ada yang berubah, lahirlah filsafat realisme dengan tokohnya adalah Aristoteles. Dalam ada yang tetap, nalar dari Plato memunculkan lahirnya paham rasionalisme. Nenek moyang filsafat dari ada yang tetap adalah Permedides, sedangkan ada yang berubah adalah Heraclitos. Dalam ada yang tetap menggunakan logika maka muncul Logicism. Dalam ada yang tetap, pikiran bersifat analitik contohnya apriori karena bersifat tetap/konsisten sehingga kebenerannya menjadi koheren sehingga diperoleh filsafat koherenism. Dalam ada yang berubah, menggunakan realism kebenarannya itu cocok dengan persepsi. Cocok itu korespondesi sehingga lahirlah filsafat korespondesionalism. Dunia anak-anak berada pada ada yang berubah ialah dunia persepsi yang menggunakan panca indera, sedangkan dunia orang dewasa berada pada ada yang tetap ialah penalaran. Namun pembuktian matematika bukan menggunakan panca indera. Bukti matematika dalam ada yang tetap memerlukan konsistensi sehingga membutuhkan hukum identitas. Dalam bahasa matematika, hal tersebut disebut tautologi yang berlaku apriori. Apriori adalah paham sebelum ada kejadian. Dalam ada yang berubah digunakan kontradiksi yang berlaku sifat sintetik, yaitu aposteori. Aposteori adalah paham setelah kejadian.

Ancaman dalam ada yang tetap adalah kosong yang disebut omong kosong, sedangkan dalam ada yang berubah adalah buta disebut tindakan buta. Ada yang tetap juga memiliki sifat ideal, absolut, dan terbebas ruang dan waktu, contohnya ialah 2 +5 = 7 bernilai benar. Jika terikat ruang dan waktu 2 buku ditambah 5 pensil sama dengan 7 buku dan pensil maka bernilai salah. Oleh karena itu, inilah yang dinamakan kontradiksi.

Dalam ada yang tetap muncul rasionalism oleh tokoh Rene Descartes yang berpandangan ilmu berdasarkan rasio. Dalam ada yang berubah muncul empiricism oleh David Huke yang berpandangan ilmu berdasar pengalaman. Masing-masing penjaga dunia. Berabad-abad mereka bertengkar dan punya pengikut, munculah tokoh pendamai yang mempunyai solusi yaitu Immanuel Kant. Dari pertengkaran tersebut, Immanuel Kant menengahi pertengkaran dengan menggabungkan apriori dan sintetik, yaitu ilmu bersifat sintetik apriori.

Matematika murni menurut Imanuel Kant belum termasuk ilmu. Sehingga muncullah tembok pembatas, pada tahun 1857 yang dicetuskan oleh Auguste Comte. Aguste Comte mengusulkan untuk membangun dunia dengan pikirannya dan ia juga menulis buku positivism. Dia menantang para filosof sebelumnya. Beliau mengajukan sebuah pertanyaan bahwa dalam membangun dunia manakah yang akan dipilih berdasar agama, filsafat, atau logika saintifik/metode saintifik/ilmiah. Lalu Comte, menjawab sendiri karena tidak ada yang mampu menjawab didalam bukunya yaitu positivism. Menurut Comte dalam bukunya, agama tidak logis, jadi tidak bisa dipakai sebagai dasar membangun dunia. Filsafat masih bisa digunakan ettapi menurutunya untuk membangun dunia maka menggunakan saintifik.

Di Indonesia urutan struktur dari yang paling dasar ke paling atas, yaitu material, formal, normatif, spiritual. Akan tetapi ternyata melampui batas ruang dan waktu sehingga membentuk struktur kekinian. Struktur kekinian dengan struktur paling dasar ke paling atas yaitu archaic, tribal, tradisional, feodal, modern, post modern, post-post modern/powernow/kontemporer. Pilar-pilarnya, yaitu capitalism, pragmatism, utilitarianism, hedonism, materialism dan liberalism. Ketika kita dalam kehidupan sehari-hari dari bangun tidur, kita termasuk dalam pilar-pilar tersebut. Pilar-pilar tersebur telah menancap. Secara sadar, tidak sadar diri kita sudah menjadi bagian dari mereka. Jika kita flashback sumber kesalahannya ada di Auguste Comte. Di Indonesia dalam keadaan ini rakyat ataupun pemimpin tidak dapat melakukan sesuatu. Indonesia itu masih ada unsur tradisional yaitu kekuatan spiritualnya masih kuat. Ujung tombak dari capitalism adalah ICT, pendidikan, budaya, ekonomi, sosial, dan politik. Hal tersebut merupakan ujung tombak menguasai dunia. Dalam matematika pendekarnya yaitu formalism, hibertinanism, absolutism. Hal tersebut ternyata mempengaruhi pendidikan Indonesia, misalnya kurikulum 2013 yang menggunakan saintifik. Selain itu, kurikulum pendidikan matematika malah disusun dari matematika murni di perguruan tinggi karena dianggap membela penguasa. Harapan saya, perubahan dan perbaikan kurikulum Indonesia dapat dilakukan demi kemajuan pendidikan Indonesia. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama.

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: