RSS

Wadah dan Isi

13 Mar

Refleksi 2 perkuliahan Matematika Model

Senin, 7 Maret 2016

 

Kita di dalam kuliah matematika model menggunakan metode hermeneutika (menerjemahkan dan diterjemahkan). Matematikawan murni adalah salah satunya yang menggunakan hermeneutika. Kita bisa meniru dari mereka. Matematikawan murni itu berfikirnya menggunakan landasan maka matematikawan murni disebut kaum foundationalism. Di dunia ini ada dua dalam berpikir yaitu berlandasan atau tidak berlandasan. Contoh hidup berlandasan: berkeluarga itu landasan nikah, beragama landasannya kitab suci atau keyakinan. Contoh hidup tidak berlandasan: berpikirnya anak kecil. Anak kecil tidak menggunakan landasan dalam berpikir, misalnya dia mengerti tentang besar kecil, jauh dekat, panas dingin. Tidak berlandaskan, tidak berdasar definisi. Landasannya adalah pergaulan atau pengalaman. Anak kecil berpikir dalam matematika menggunakan intuisi.

Ilmu landasannya, yaitu foundationalism dan institutionalism. Kalau matematika dengan foundationalism dengan matematika murni maka landasannya membuat definisi, jangankan definisi dalam matematika model, “yang ada” juga berstruktur, model. Struktur dari yang ada adalah wadah dan isi. Jika yang ada aja mempunyai struktur apalagi definisi. Definisi dari matematika murni juga berstruktur. Definisi terdiri dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan. Unsur dasar dari yang “tidak didefinisikan itu “ adalah”. Tidak ada yang dapat mendefinisikan “adalah”. Dewa saja tidak bisa mendefinisikan “adalah”. Unsur mendasar paling mendasar dari filsafat adalah definisi. Jika orang mendefinisikan himpunan ialah “bilangan”, “sama dengan”, “adalah”. Hal tersebut merupakan unsur primitif yang tidak perlu untuk didefinisikan. Semua unsur primitif itu kategori “yang ada” dan pasti mempunyai struktur. Strukturnya adalah wadah dan isi. “Adalah” mempunyai struktur. “Sama dengan” itu wadah tapi maksudnya menghubungkan antara predikat dengan subyeknya.

Tak diungkapkan, tak dikatakan itu sudah ada sebelum manusia lahir. Dari struktur “adalah” saja sudah bisa di timeline-kan. Jika kurang bermakna ditambah unsurnya, misalnya definisinya. Hal yang dilakukan oleh orang matematika yaitu penggalan di “kebun rayanya matematika”. Unsur yang berdefinisi akan membentuk sebuah definisi, bangunan maka orang matematika membentuklah yang namanya aksioma. Aksioma adalah hubungan antara definisi. Aksioma pertama memiliki struktur yang besar lalu digabung dengan aksioma lain menjadi teorema. Teorema memiliki struktur yang lebih besar dari aksioma. Matematikawan murni tugasnya hanya membuat teorema, dan teorema itu tidak kontradiksi dengan teorema yang lainnya. Itulah yang dinamakan identitas dan tidak bersifat kontradiksi. Tautologis, teorema kesepuluh ribu sama dengan teorema pertama atau bagian-bagiannya. Tak peduli ruang dan waktu matematikawan dipakai atau tidak akan tetapi ada prinsip bahwa ada logikanya, ada konsistensinya, ada identitasnya maka dunia dibawahnya memiliki prinsip yang sama sehingga matematika terpakai. Kalau matematika murni terbebas dari ruang dan waktu, mtetapi tidak terlepas dengan unsur-unsurnya, maka rumus itu banyak. Rumus itu struktur, struktur itu juga rumus. Contoh, bidang lurus, bidang datar, segitiga, lingkaran mereka punya rumus masing masing. Kalau dijadikan satu disebut mono, ketunggalan. Filsafat juga kalau dijadikan satu itu dinamakan ketunggalan, kuasa Tuhan. Jika rumusnya sulit maka kuasa Tuhan. Hal tersebut disebut monoisme. Struktur kuasa Tuhan paling tinggi, melingkupi semuanya. Gambaran tersebut sebagai gambaran dalam matematika model, hanya diekstensikan.

Jika filsafat itu intensi sedalam-dalamnya dan ekstensi seluas-luasnya, salah satu diekstensikan dalam ruang dan waktu. Definisi misalnya sudah ada semenjak kita belum lahir. Plato mendefinisikan matematika itu lengkap. Seorang idealis mengatakan matematika itu sudah ada tapi belum menemukan. Sebagian orang belum menemukan matematika karena sebagian dosanya diikat oleh badannya yang kotor. Dalam filsafat, tidak ada yang lebih dalam dan tidak ada yang lebih sederhana kecuali yang ada. Struktur dari yang ada adalah wadah dan isi. Wadah dan isi lalu ditimeline-kan. Wadah di didalam pikiran, siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan menghasilkan idealisme. Wadah di luar pikiran, benda yang konkret.

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: